Entri yang Diunggulkan

Meneruskan Aspirasi Historis

Mencapai cita-cita luhur yang hakiki merupakan sebuah keniscayaan untuk bersahabat dengan penderitan dan pengorbanan. Tentu dalam instrumen ...

Rabu, 19 Desember 2018

Ramadhan dan Eksistensi Pers KHARISMA

Perjalanan Koran Siswa MANJ (KSM) saat ini sudah mencapai titik nadir. Pasalnya, pada saat menjelang ramadhan, KSM akan di bekukan dan akan kembali di aktifkan sepuluh hari setelah ramadhan mendatang, bersamaan dengan itu pula, majalah KHARISMA edisi dua puluh Sembilan berhasil di launching-kan,
Hal ini merupakan titik akhir bagi redaksi dalam melaksanakan peliputan dan mencari sumber data para narasumber. Akan tetapi, redaksi masih tetap mengemban tugas berat yang tak bisa diremehkan. Yakni dengan adanya distribusi ke pelbagai provinsi di Jawa Timur. Hal ini dilakukan guna memberikan pengalaman terhadap seluruh anggota redaksi dalam mengetahui dan beraktualisasi di bidang jurnalistik dengan baik.
Sementara itu, disamping semua tugas telah terselesaikan. Kini, KHARISMA telah siap untuk me-launching-kan video profil MANJ yang menjadi momok hangat di kalangan siswa maupun guru. Tentu hal ini merupakan batu lonjakan yang gemilang dalam sejarah KHARISMA, mengingat bahwa profil MANJ ini baru pertama kali di buat, dan dalam pembuatannya hanya mengandalkan kemampuan siswa MANJ sendiri, sungguh pencapaian yang perlu diacungi jempol.
Dalam mendidik siswa, lembaga pers KHARISMA telah berhasil mengembangkan mereka menjadi siswa yang produktif dalam dunia tulis menulis. Tak hanya itu, mereka pun tidak menjadi kolot dalam ilmu pengetahuan. Pasalnya, selain tugas mereka menjadi kuli tinta. Mereka juga telah difasilitasi dengan internet yang tentunya perlu penjagaan ekstra dalam penggunaannya agar tidak terjadi hal yang menyimpang.
Redaksi sendiri, pada pertengahan ramadhan 2018 akan mengadakan berbuka puasa dengan melibatkan Lembaga Pers Siswa (LPS) Tabilla dari MAN 1 Jember. Hal ini dimaksudkan agar jalinan antar pers se- tapal kuda tetap kokoh dan mampu saling bahu membahu dalam menghadapi tiap cobaan yang di lalui bersama.
Memang sulit di pungkiri, LPS KHARISMA yang bernotabene dipondok pesantren telah mampu membawa nama MANJ menjadi kian gemilang dan popular di provinsi jawa timmur, bahkan di seluruh penjuru nusantara.
Hal itu dikarenakan,  meski LPS KHARISMA berada di dalam naungan pondok pesantren, KHARISMA juga melakukan peliputan ke luar daerah jwa timur, antara lain : Bali, Bandung, Jogjakarta, Jakarta dan Tangerang. Hal ini dimaksudkan agar LPS KHARISMA mampu tersohor menjadi lembaga yang benar benar prestisius dan berakrualisasi dengan baik.
Sedangkan untuk penyeleksian KHARISMA sendiri tergolong ketat. Siswa yang ingin mendaftar, harus memiliki pelbagai persyaratan mental yang kuat dan siap berada d bawah tekanan. Hal itu di maksudkan agar eksistensi LPS KHARISMA tidak  menurun atau pun sampai hilang di tangan orang orang penting.
Tentunya harus ada penanggulangan agar eksistensi KHARISMA tetap terjaga dan tetap menjadi majalah bestandar nasional. Hal ini dapat dilakukan dengan perekrutan yang akut, keras dan tidak kikuk, agar pola pikir redaksi menjadi terlatih dan memiliki mental yang kuat serta memiliki antusias dalam menjalani kehidupan yang keras di LPS KHARISMA.
Penulis adalah Pemimpin Redaksi Majalah Kharisma Edisi 29-30

Reliansi Kapiran Para Insurgen Nusantara

Tahun 2016 lalu, kita telah dikejutkan dengan munculnya isu-isu para distruktor di pelbagai penjuru dunia. Tak hanya berkedok sebagai teroris. Nama islam pun diperebutkan untuk menggencarkan aksi liciknya dalam meneguhkan reliasi mereka dan mentolak mundur objek yang menjadi sasarannya. Aksi ini sempat viral dalam jangka panjang dan menjadi sebuah sorotan oleh seluruh dinamika masyarakat dunia maupun media-media yang berefloresen seiring bertambahnya teknologi mutakhir.
Kemudian, hal ini pun membuat bangsa Indonesia yang mayoritas penduduknya menganut agama islam tentu merespon lekas terhadap perihal –perihal para teroris yang berkedok di dalam jubah islamiyah, dengan mempersiapkan dan menjaga ketahanan bangsa melalui kerja sama antar Negara dan memberikan wacana pendidikan luas  terhadap para pemuda sebagai generasi bangsa agar menjadi pelajar yang elintis dan profesien dalam memahami elemen – elemen yang berada di pelbagai penjuru dunia maupun di Indonesia.
Perpetrasi yang digencarkan oleh para insurgenisme yang radikalis terhadap pemahamannya. Membuat TNI pun turut  turun tangan     dalam mempertahankan NKRI. Jika dilihat dari segi emploemen –emploemen yang pada akhirnya menimbulkan disuasi bagi nusantara. Hal ini dapat dilihat melalui realita yang menyebar di pelbagai Negara-negara besar.
Mirisnya, mereka justru bersembunyi di balik topeng islam. Hal tersebut menimbulkan tanda-tanda disuni hingga menjadi sebuah disvergensi di Negara tersebut. Pelbagai problematika dan disagremen di perbincangkan, rekreminasipun dilontarkan pada lawan, hingga disafeksi timbul dan akhirnya memberikan sebuah konklusi berupa detrimen, regresi dan dereliksi atas bangsa tersebut.
Kendati demikian, pada dasarnya, desiderasi yang ditetapkan oleh para insurgen di otak-otak mereka sungguh dangkal dan rekalsitran. Enunsiasi ini hanya melihat rutinitas kecil yang Nampak dikalangan bangsa Indonesia.
 Padahal pada hakikatnya, mereka mereka tidak tau menau bahwa Indonesia pada dasarnya memiliki kekuatan, kekuasaan dan ketahanan Negara yang tidak diketahui oleh golongan mereka , apalagi melihat janji dan konklusi yang diberikan Negara-negara dunia paa Indonesia yang tak mungkin untuk mudah dihancurkan dengan strategi murahan mereka. Melihat pada relasi yang terus terjalin antara Indonesia terhadap Negara-negara lain secara empiris, tentu hal ini sangat relevan.
Pasalnya, ketahanan dan kekuatan militer serta kecerdasan bangsa dalam merangkai stratergi tentu mampu mentolak mundurkan para distruktor dengan cepat dan sigap, ditambah lagi dengan persenjataan dan tentara-tentara yang siap menjadi utusan Negara yang menjalin relasi yang baik agar mampu mendiskoperkan penghargaan yang gemilang serta progresif dalam menggapai tujuan. Lantas, mengapa Indonesia dikata sangat  lelet dalam melencarkan serangan kepada kaum radikal ?.
 pada hakikatnya, bangsa Indonesia bertumpu atau lebih mengacu pada titik temu atau hal yang bersifat fundamentalis dari segala detrimen yang bermunculan di tanah air.Akan tetapi tidak melepas para insurgen dan masalah-masalah kecil secara mutlaq.
 Dengan cara ini, tentunya para distruktor yang awalnya bahagia bukan kepalang , kini kian kebingungan. Pasalnya, reliansi yang menjadi tumpuan atau pustulat mereka dalam menjalankan aksi telah gagal karena ditolak mundur oleh gencaran yang dilakukan oleh para progreris bangsa ini.
s Oleh karenanya, Indonesia yang dikata lemah dalam persediaan senjata ataupun kesiapan yang belum sempurna, tentu adalah isu belaka yang dating dari stipulator, untuk mengahncurkan moral pelajar Indonesia untuk cinta terhadap bangsa dan Negara.
Penulis adalah Pemimpin Redaksi Majalah Kharisma Edisi 29-30

Elanvital Menjadi Sarana yang Teredukatif

Dalam kehidupan yang fana ini, terdapat beberapa aspek kehidupan yang tidak dapat dipisahkan dari diri manusia, diantaranya adalah aspek sosial, ekonomi, politik dll. Seluruh aspek tersebut, tentu menjadikan ketergantungan tersendiri bagi seluruh manusia. Hal tersebut dikarenakan manusia secara universal tidak mampu untuk hidup secara individualis.
Kendati demikian, meskipun manusia telah terbiasa hidup secara sosial. Namun, sebagian dari mereka masih saja terdapat orang-orang yang masih menjalani realita dinamika kehidupan ini dengan penuh disafeksi. Bahkan, tidak sedikit orang-orang di dunia ini malah memilih untuk mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri sebagai sarana yang Sefisien baginya.
Dalam konteks ini. Orang-orang yang penuh penderitaan berfikiran bahwa dirinya memang merasa penuh dengan derita dari empirik yang pernah orang tersebut alami. Lambat laun, akhirnya hal tersebut berdampak pada psikis seseorang menjadi tertekan. Sehingga, membuat pola pikir dan gaya hidup orang tersebut selalu cenderung berfikir negatif. Akibatnya, mereka memilih untuk melakukan hal-hal  yang diluar nalar humanitarian. Rata-rata orang yang melakukan emploimen tersebut adalah orang yang berputus asa dan tidak mau menerima realita kehidupannya. Hal ini dapat dibuktikan dengan maraknya aksi bunuh diri di berbagai lingkup dinamika sosial, misalnya di rumah sakit atau di penjara yang mayoritas didalamnya terdapat orang-orang yang fobi dan maras akan masa depannya.
Sebenarnya orang-orang yang berlaku demikian kebanyakan adalah orang yang tidak mau tanggap terhadap keadaan sekitar dan berefloresen dengan tepat. Mereka tidak percaya bahwa mereka mampu bangkit dari keterpurukan sehingga membuat mereka selalu berfikir negatif terhadap dirinya sendiri. Sejatinya, orang-orang yang berfikir demikian sangat membutuhkan dukungan besar, baik dari aspek sosial maupun dari diri sendiri. Dengan selalu memberikan dukungan, orang tersebut akan mengubah derogasinya menjadi sebuah pemikiran yang teredukatif dan inovatif yang cenderung akan berfikir positif, sehingga membuat orang tersebut menjadi antusias dan mampu mengubah kehidupannya sedikit demi sedikit menjadi lebih efektif dan efisien dalam menanggapi berbagai hal dikemudian hari.
Hal ini dapat dibuktikan dengan adanya beberapa percobaan di salah satu universitas ternama, Hardvard. Mereka mengatakan bahwa dengan semangat dan etos yang tinggi jauh lebih utama untuk membuat orang yang menderita menjadi sembuh daripada menggunakan alat-alat yang masih memiliki efek samping. Hal tersebut dikarenakan energi-energi otak yang sebelumnya berfikir negatif berubah menjadi positif sehingga membuat kinerja otak menjadi lebih stabil dan dapat memulihkan keseimbangan tubuh sehingga tubuh menjadi lebih fit.

Artinya, orang yang bersemangat dalam menghadapi realita kehidupan akan tidak mudah putus asa dalam menjalani hidupnya meskipun berbagai halang rintang menghalangi jalan hidupnya. Sehingga orang tersebut akan memiliki masa depan yang bermutu dan efisien. Dalam menjalani kehidupan pula, orang tersebut akan berpikir secara konsisten  dan terkadang mengambil hal yang fundamental dari empirik yang telah dilalui dan mengkonklusnya sebagai kehati-hatian agar mendiskoper kehidupan yang frofit di kemudian hari.

Lembaga Pres, Menuju Masa Depan yang Terjamin

Dalam pembelajaran di Sekolah, kita telah mengenal istilah organisasi dari pelbagai kalangan, baik itu melalui media pembelajaran yang dilakukan intraksi antar guru dan murid, ataupun dari adanya sebuah instansi yang berkembang di Sekolah tersebut, memang jika boleh dikata, adanya sebuah organisasi telah  menjadi momok yang sangat menakutkkan bagi siswa yang anti organisasi.
Memang faktanya, aktivis siswa, baik itu OSIS dan semacamnya seringkali dihujat dan diklaim sebagai orang yang sok suci dan memiliki watak karakter keras terhadap siswa lainnya, hal itu yang menjadi alas an utama siswa untuk membenci aktivis dalam melaksanakan kegiatan yang mereka lakoni.
Sebagai seorang aktivis, tak bisa di pungkiri pula, bahwa hujatan dan cacian seolah telah menjadi konsumsi bagi mereka, namun di satu sisi, mereka memiliki nilai lebih dihadapan golongan lain, yakni sebagai orang yang produktif dan juga mampu meningkatkan reputasi.
Tak bisa dipungkiri, dalam manajemen organisasi, perlu adanya kerja sama tim yang baik, hal itu dimaksudkan agar keanggoatan yang dijalankan mampu berjalan sempurna dan menjadi sebuah kenangan manis kelak. Namun, manajemen organisasi bukanlah hal yang mudah, dalam melaksanakan sebuah kegiatan, selalu saja ada beberapa masalah yang menjadi penghambat siswa dalam menjalankan kegiatan yang dijalankan.
Hal itu pula yang dirasakan oleh media pemberitaan warta sekolah, yakni lembaga pers siswa. Berbeda dengan organisasi organisasi pada umumnya, media pers memiliki kecenderungan yang fatal dan memiliki dampak yang besar terhadap suatu kelompok atau individual perorangan.
Mengapa harus media pers?, hal ini dikarenakan pers memiliki tanggung jawab dalam peliputan berita yang dilakukan setiap hari dengan pelbagai sajian yang terlihat menarik dan elegan. Selain itu, pers juga memiliki jadwal yang sangat padat dalam melaksanakan aktifitas, jadi jangan heran bila siswa yang bergelut di organisasi ini memiliki kesibukan yang super padat kesehariannya.
Jika kita lihat pada fakta yang ada, siswa yang menggeluti dunia tulis menulis dan ilmu kewartaan (jurnalistik) memiliki kontribusi besar terhadap kemajuan Madrasah sendiri, selain mampu menjadi sarana dalam memberikan informasi yang faktual dan aktual terhadap ruang lingkup siswa, lembaga pers juga dapat menjadi media pengkoreksian sekolah dalam uapaya pembangunan dan pembenahan sekolah menjadi sekolah yang bermutu dan berkualitas baik untuk kemajuan siswa maupun kemajuan pembangunan dan fasilitas bagi siswa dan guru.
Tak bisa disayangkan pula, bahwa dampak positif yang diberikan pers siswa terhadap sekolah juga terdapat orang atau golongan yang proaktif yang mencaci adanya lembaga pers. Yakni, terdapat beberapa guru ataupun dari kalangan siswa sendiri yang membenci siswa produktif menulis. Pasalnya, tak jarang, setiap gerak gerik mereka selalu di awasi oleh kuli tinta ini, alhasil, hal itu membuat mereka menjadi kikuk dalam menjalankan sebuah pekerjaan atau sebuah rutinitas yang bisa mereka tekuni.
Konsekuensinya adalah, apabila mereka melakukan sesuatu yang menarik atau pun menyimpang, mereka tentu akan merasa malu dan kecewa telah apa apa yang menimpa terhadap mereka, dan tentunya, media pers lah yang menjadi penyebab utama runtuh atau naiknya pangkat seorang guru pada ruang lingkup sekolah.

Memanfaatkan waktu.

Dalam perkembangannya, selain menjadi siswa aktif di Sekolah, siswa yang aktif di lembaga pers juga memiliki kesibukan tersendiri yang harus dipenuhi untuk mencapai sebuah kesuksesan dan hasil yang optimal, yakni berupa pengggalian berita, wawancara, editing sampai proses lay out, hal itu semua dilakukan dalam waktu kegiatan pelajaran sekolah dilaksakanan.
Terlebih dikalangan pesantren, tentunya siswa yang berdomisili di sebuah pesantren dan aktif di organisasi kejurnalisasan akan kewalahan dalam mengahadapi  itu semua, maka mau tidak mau, pemanfaatan waktu merupakan satu satunya cara untuk memberantas kemuskilan yang terjadi dikalangan mereka (redaksi).
Dalam proses yang tergolong luar bisaa itu, tentu hasilnya pun akan memuaskan, mereka yang aktif di organisasi pers, tentu sudah memiliki modal yang cukup untuk menghadapi ujian di kalangan mahasiswa. Selain itu, mental yang dimilki oleh siswa tersebut tentu tak perlu dipertanyakan dan diragukan lagi dalam menjalankan aktifitas, yakni, dengan selalu cekatan dalam segala hal dan tidak menunda nunda waktu.
 Selain itu bagi mereka yang aktif di media pers juga akan siap berproses atau berlatih dibawah tekanan demi mencapai hasil yang di inginkan, tak bisa di remehkan bahwa media pers merupakan media yang harus digalakkan oleh sekolah agar mampu menciptakan kader kader bangsa yang memiliki pemikiran yang kritis dan aktif dalam menghadapi setiap cobaan dan ujian.
Dalam konteks ini, tentu kehidupan masa depan mereka lebih terjamin daripada orang orang pada umunya, mereka akan menjadi orang yang sukses dan bermanfaat bagi suatu instansi karena proses  yang dilakukan jurnalis siswa itu sangatlah panjang dan dipenuhi lika liku yang menantang adrenaline.
Oleh karenanya, lembaga pers di sebuah instansi baik di Madrasah ataupun Sekolah harus segera disinyalir bhawa seksistensi adanya lembaga tersebut sangat berartui, apalagi mengaca pada keadaan Indonesia yang mulai terganggu keamanannya oleh teror teror yang berserakan disana sini, tentu denga n adanya media pers, siswa menjadi lebih aktif, produktif, inovatif dan selalu positif dalam melaksanakan sebuah empolemen untuk menjadi masyarakat khususnya menjadi pelaraj yang berkualitas.            
Penulis Merupakan Pemimpin Redaksi Majalah Kharisma edisi 29-30

Peran pers dalam menangani berita palsu (hoax)

Kuatnya arus media dari pelbagai belahan dunia nampaknya telah mampu memberikan dampak negative bagi perkembangan zaman, dengan kuatnya arus media tersebut, media sosial kian tak dapat di urus dengan konkret, hal itu pun berakibat pada golongan-golongan yang memanfaatkan media sebagai sarana kepentingan pribadi dan terkadang untuk mengusung kelompok-kelompok yang mereka geluti.
Dewasa ini, kita telah dikejutkan dengan beredarnya berita fake news (hoax) yang saat ini telah menjadi perbincangan hangat di Indonesia, dimana para pengedar hoax lebih dominan beraksi di media social, pasalnya, media social merupakan slah satu sarana efektif untuk melancarkan aksi bagi para cyber crime untuk mengubar kebencian maupun mengangungkan suatu golongan.
Adapun target dan tujuan dari para pengedar hoax sendiri adalah masyarakat umum yang minim akan pengetahuan dan informasi sekitar, sehingga rasa simpati dan gejolak untuk melakukan sesuatu pun timbul untuk mengikuti hal-hal yang di ajukan oleh para (pengedar hoax).
Dengan adanya hoax yang telah menjamur ini, tentu para jurnalis aktif di tiap instansi tak tinggal diam, pelbagai cara pun dilakukan untuk memberantas terjadinya hoax di dunia. Pasalnya, dengan ketegangan berita hoax yang terjadi di masyarakat umum.
Fakta yang menunjukan bahwa pers menolak keras adanya hoax adalah salah satu instansi ternama, jawa pos, saat ini telah membuat terobosan cemerlang dengan mengangkat rubrik baru yang bernama “Hoax atau bukan” yang menjadi salah satu bentuk penolakan keras  terhadap hoax yang berkoar di Indonesia.   
Hal itu pula akan berdampak pada eksistensi pers untruk kedepannya bahwa lambat laun, masyarakat umum akan tifdak mempercayai berita, sehingga terkadang berita asli pun di hujat sebagai berita yang tergolong palsu,
Tentunya untuk menanggulangi hal ini perlu adanya pendidikan khusus bagi masyarakat, khususnya para pemuda yang saat ini tak mampu lepas dari media sosial. Tak hanya itu, hal ini pula perlu adanya dukungan dan hukuman dari pemerintah tentang orang yang mengubar berita palsu untuk dihukum dengan hukuman yang berat.
Pasalnya, dengan hukuman berat, pendidikan efisien dan langkah jurnalis dalam berperang dengan hoax membuat hoax mampu dipukul mundur dan tidak akan mampu mencari celah sebuah kesalahan untuk mencekoki masyarakat Indonesia dengan berita berita palsu.
Peran jurnalis merupakan peranan yang sangat urgen dalam menuntas habiskan hoax itu, selain berimbas terhadap pers sendiri, hoax juga akan memberi dampak yang sangat merugikan bagi pers, pasalnya, pers yang merupakan jembatan antara pejabat dan masyarakat tentunya akan tidak dipercayai lagi berita-berita yang di muatnya di pelbagai tempat, alhasil, hal ini akan membuat pers menjadi tempat hujatan dan menjadi sasaran amukan masyarakat.

Penulis Merupakan Pemimpin Redaksi Majalah Kharisma edisi 29-30